2020, Tahun Awal Perang

2020, Tahun Awal Perang


2020 merupakan tahun yang sangat berat. Bagaimana tidak, di awal tahun 2020 dunia sedang diserang pandemi covid 19. Pandemi ini berhasil melumpuhkan ekonomi dunia, hingga banyak negara mengalami resesi. Namun ditengah resesi global dan angka positif covid yang terus meningkat, ada beberapa negara yang justru sibuk menyiapkan militernya untuk berperang. Beberapa front global sudah mulai terbuka. Beberapa konflik kecil sudah mulai terjadi. Dan dikhawatirkan akan meluas menjadi konflik yang lebih luas dan menyeret negara negara besar, seperti Amerika, Rusia, Perancis, India dan China. 


     China sudah berkali kali “mengganggu” kedaulatan negara negara tetangganya, seperti Taiwan dan Jepang. Jet jet tempur China berkali kali melewati wilayah udara Taiwan, dan kapal kapal China sudah beberapa kali memasuki wilayah laut Jepang. Tak hanya dengan negara tetangganya saja, China bahkan juga mengklaim Laut China Selatan sebagai wilayah kedaulatan China. China menganggap Laut China Selatan merupakan wilayah “Traditional fishing Ground” milik China yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Tentu hal ini membuat hubungan politik antara China dan negara di ASEAN memanas. Bahkan Amerika juga panas melihat tingkah China yang terkesan seenaknya sendiri menentukan klaim wlayah laut. Amerika sudah mengerahkan kapal kapal perangnya ke Laut China Selatan. Termasuk kapal induk milik Amerika Serikat. Beberapa negara sekutu Amerika serikat juga mengerahkan kapal kapalnya ke Laut China Selatan. Australia dengan beberapa kapal perangnya dan Inggris dengan Kapal Induk HMS Queen Elizabethnya. 


    Selain di Laut China selatan, front Laut Mediterania juga mulai memanas. Dua negara anggota NATO, yaitu Turki dan Yunani saling memperebutkan batas wilayah di Laut Mediterania yang kaya akan minyak. Bahkan Turki sudah mengerahkan kapal eksplorasi minyaknya, yaitu “Oruc Reis”. Bahkan kapal perang Turki dan Yunani sempat bertabrakan. Sadar akan kekuatan militer yang kalah dengan Turki, Yunani meminta bantuan negara lain. Yunani telah mengadakan latihan militer bersama anggota NATO lainnya, yaitu Perancis dan Italia. Bahkan Yunani berencana melakukan proses pengadaan alutsista jet tempurnya. Yunani berencana membeli jet jet tempur Dassault Rafale milik Perancis dan satu buah kapal fregat buatan Perancis. 


    Tak kalah panas dengan konflik di Laut Mediterania Timur, Azerbaijan dan Armenia justru sudah mulai melakukan peperangan. Bahkan pertempuran sudah berlangsung selama satu Minggu lebih dengan korban mencapai ratusan orang di kedua belah pihak. Ratusan korban tersebut mencakup korban militer dan warga sipil. Konflik ini merupakan konflik perebutan wilayah Nagorno-Karabakh, yang secara geografis terletak di wilayah Azerbaijan, namun dikelola oleh etnis Armenia. Saat ini militer Azerbaijan lebih unggul daripada militer Armenia. Armenia sendiri merupakan negara dengan militer terkuat urutan ke 111. Selain itu Azerbaijan juga mendapat dukungan penuh dari Turki. Meskipun Armenia telah menyewa tentara bayaran dari Yunani namun itu belum cukup untuk mengalahkan militer Azerbaijan yang didukung oleh Turki. Bagaimana tidak, Pesawat F-16 milik Turki berhasil menembak jatuh pesawat Su-25 milik Armenia. Meskipun pihak Turki tidak mau mengakuinya. Selain bantuan dari Turki, Azerbaijan juga memiliki alutsista buatan Israel yang sudah battle proven. Drone drone buatan Israel tersebut berhasil mengenai sasaran dengan sangat tepat, bahkan Armenia kehilangan banyak artileri dan mesin perang. Beberapa tank dan truk tentara Armenia juga rusak berat bahkan hancur terkena drone buatan Israel tersebut. Meskipun dalam kondisi yang kian terdesak, pihak Armenia belum mau mengajukan gencatan senjata dan terus gigih melakukan perlawanan terhadap Azerbaijan.   



Sumber : CNBC Indonesia, Sindonews, Republika

Komentar

Postingan Populer